counter easy hit
160×600 Banner
160×600 Banner

Dialog Publik PMKO Unibos Duetkan Ishak Ngeljaratan dan Das'ad Latief

CELEBESONLINE (Makassar): Persekutuan Mahasiswa Kristen Oikumene (PMKO) Universitas Bosowa menggelar dialog publik bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Senin (2/5/2016).

Dialog Publik yang membahas tentang Pluralisme dan Kebhinekaan ini menghadirkan akademisi, budayawan dan tokoh agama Sulsel seperti Dr Ishak Ngeljaratan dan Udzad Das’ad Latif.

Kegiatan ini digelar sebagai rangkaian peringatan Paskah. Sebelumnya, PMKO telah menggelar kegiatan donor darah dan akan ditutup nantinya di perayaan puncak Paskah di Malino.

Wakil Rektor III, Dr Abd Haris Hamid, di sela-sela sambutannya menyampaikan harapannya agar kegiatan yang mampu merangkul berbagai golongan, agama, dan suku yang ada di kampus ini untuk terus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya. Menyoal topik yang dibahas pada kegiatan ini, Abd Haris mengungkapkan bahwa adalah hal yang penting untuk membangun jiwa terlebih dahulu untuk mendapat tubuh yang sehat.

“Dalam artian, semangat untuk menghargai perbedaan itu yang harus dibangun untuk membentuk Indonesia yang sehat secara utuh,” ungkapnya.

Kegiatan yang dimoderatori oleh Yusdi, mahasiswa Fisipol, ini dihadiri oleh mahasiswa Unibos dari berbagai fakultas dan latar belakang agama yang berbeda. Perbedaan inilah yang dijabarkan oleh kedua pemateri.

Ishak Ngeljaratan menjabarkan bahwa kemajemukan bangsa Indonesia ini terjabar dalam tiga aspek penting, yaitu peta geografis, peta etnis, dan peta budaya. “Pluralisme adalah bagaimana mengerti, memahami, dan memberlakukan perbedaan dari sudut pandang epistemologi,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Das’Ad Latif menyampaikan bahwa fitrah manusia adalah berbeda. “Maka perbedaan tidak boleh dipaksakan,” terangnya. Menurutnya, perbedaan seharusnya dihargai, karena ketika dipaksakan hanya akan memunculkan masalah.

Terkait dengan sistem pendidikan hari ini, Udzad Das’ad Latif mengungkapkan kekhawatirannya akan sistem yang berlaku. Menurutnya, sistem pendidikan hari ini hanya berfokus untuk membangun otak, bukan hati.

“Harus ada yang dibenahi dari sistem kita ini, jiwanyalah yang mesti dibangun, baru kemudian badannya, senada dengan lagu kebangsan kita Indonesia raya,” tutupnya.(*)

468×60 Banner semen
Logo Header Menu
web
analytics