counter easy hit
160×600 Banner
160×600 Banner

Waspadalah, Sosial Media Bisa Jadi Wadah Rekrutmen Teroris

CELEBESONLINE (Makassar): Media ternyata bisa menjadi jalan bagi masyarakat untuk terlibat dalam kelompok terorisme. Yang paling dominan adalah sosial media yang sekarang ini kian marak sesuai tuntutan jaman.

Media ada dua kategori yaitu media sosial dan sosial media. Media sosial diketahui menjadi sumber pemberitaan seperti koran, radio, televisi, dan portal online. Media sosial ada pola-pola tertentu dibaca dan dinonton.

Sedangkan sosial media dikenal seperti Facebook, Twitter, Instagram, blog, dan lainnya.

Direktur Pencegahan Teroris BNPT, Brigjen Pol Drs Hamidin, mengatakan bahwa media sosial yang memberitakan tentang teroris bisa saja membuat audience-nya tertarik dengan pola yang dilakukan para pelaku teroris, meski jumlahnya sedikit.

Sementara sosial media terus berkembang seiring dengan pergeseran jaman ke era digital. Hamidin mengatakan situs-situs radikal terus bertambah. Tahun 2014, tercatat ada lebih dari 9.400 situs radikal dan jumlahnya bertambah menjadi 15.000an pada tahun 2015.

“Artinya kan selalu berkembang. Rekrutmen anggota kelompok radikal bisa melalui media,” katanya dalam pelatihan Duta Damai Dunia Maya di Hotel Aryaduta, Makassar.

Hamidin menjelaskan bahwa pola rekrutmen anggota teroris sekarang bergeser dan berkembang. Jika dulu melalui pertemuan-pertemuan kecil, baru dilakukan doktrininasi dan rekrutmen. Kali ini rekrutmen dilakukan dengan menyebarkan doktininasi dan propaganda melalui media, utamanya sosial media.

“Jika dulu disumpah dulu baru direkrut jadi anggota, sekarang di negara maju, orang menjadi radikal tidak selamanya melalui sumpah (baiat), mereka disumpah (baiat) kalau sudah bergabung dalam kelompok,” ujarnya.

Karena itu, kata Hamidin, media berperan dalam mencegah terorisme. Media harusnya kerja sedetail-detail terkait aksi dan tokoh teroris.

“Misalnya ada yang ditangkap, dia dianggap tokoh. Jangan diglofikasi seperti dia hebat sekali. Media cari tahu dengan banyak bertanya pada polisi. Sebetulnya dia siapa, latar belakangnya bagaimana, dan seperti apa. Dari data itu, kita bisa tahu orang ini menjadi radikal karena apa,” ucapnya.

“Media jangan minum informasi. Cross cek setiap informasi tentang seseorang yang tertangkap. Cari data yang lengkap tentang yang bersangkutan, jangan diekspos terbalik,” katanya.

Hamidin juga menghimbau kepada masyarakat agar tidak mudah terpancing propaganda yang tersebar di sosial media. “Untuk itu kami melatih ahli-ahli media, utamanya sosial media, menjadi duta damai di dunia Maya,” tutupnya. (*)

468×60 Banner semen
Logo Header Menu
web analytics