counter easy hit
160×600 Banner
160×600 Banner

Pilgub Jakarta dan Rasa Keadilan

New Banner Semen

KOLOM ANDI SURUJI – “Aduh langsung lemas saya. Untungnya koperku saya kasih simpan memang mi di mobil, jadi langsung ma ke bandara. Ededee…. ka’ tidak bertambah suaranya Ahok.”

Itulah ungkapan salah seorang pendukung Ahok di Bandara Sultan Hasanuddin begitu turun dari pesawat saat bertemu rekannya, Kamis dinihari. Mereka berasal dari Makassar, kader partai pengusung Ahok-Djarot. Mereka ke Jakarta untuk memberi dukungan kepada Ahok. Mungkin juga memberikan suara di TPS. Ah sudahlah saya tidak perlu mengusut. Sensitif.

Itulah daya sedot Pemilihan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Sungguh luar biasa menyita perhatian dan menguras tenaga. Sampai ada anekdot viral yang “menggugat” bahwa pilgub ini tidak adil.

Tidak adil? Ketika musim kampanye, warga bangsa ini seolah dipaksa ikut terlibat di dalamnya. Salah satu contohnya, debat publik antar calon selalu disiarkan langsung stasiun televisi. Pemberitaan kampanye pun disiarkan berbusa-busa oleh media.

Akan tetapi, ketika tiba hari pencoblosan, hanya warga Jakarta yang mendapat jatah libur. Hahaha….. Itulah salah satu contoh spontanitas masyarakat, mengungkapkan apa yang dipikirkan dan dirasakan. Benar atau tidak logika dan alasannya. Bukan sekadar ungkapan verbal, tetapi dinyatakan dalam bentuk meme dan dibagikan melalui media sosial. Itulah masyarakat spontan.

Pilgub Jakarta memang penting. Tanpa dilibatkan pun masyarakat di daerah lain tentu berkeinginan tahu dan memahami proses demokrasi yang sedang berlangsung. Jakarta adalah etalase Indonesia. Karena itu, setiap kali terjadi debat kandidat, hampir separuh komentar di media sosial berasal dari luar Jakarta.

Meskipun hanya pemilihan gubernur dan wakil gubernur, rasanya tidak kalah, bahkan serasa pemilihan presiden dan wakil presiden. Betapa tidak, seluruh elit politik dan elit bangsa terlibat langsung maupun tidak langsung.

Mereka mencurahkan perhatian dan tenaga agar jagoannya tidak kalah. Keterlibatan serius para elit politik nasional itulah juga yang menjadi magnet penyedot pikiran, rasa, dan tenaga elit politik, bahkan masyarakat awam di daerah untuk terlibat. Paling tidak ikut membicarakan.

Pages: 1 2
Logo Header Menu
web
analytics