counter easy hit
160×600 Banner
160×600 Banner

Kopi Pahit yang Manis

New Banner Semen

JURNAL CELEBES– “Ngopi yuk!”, begitu ajakan seorang sahabat  suatu hari. Kami pun janjian ketemuan di sebuah warkop (warung kopi). Judulnya ngopi, tempatnya pun di warung kopi, pengunjung warkop rupanya tak seluruhnya menikmati seduhan kopi. Jenis minumannya warna-warni, mulai dari teh hingga juice.

Ayo ngopi terlanjur menjadi jargon untuk ajakan ketemuan. Soal minumannya apa, itu urusan belakangan. Bahkan sekedar nongkrong tanpa pesanan. Dari sejak terang yang menawan hingga gelap perlahan.

Kami memilih duduk di meja sudut ruangan. Dari posisi sudut, kami bisa lebih leluasa memandang hiruk pikuk warkop, tanpa ada yang disudutkan. Terlihat jelas dari sudut pandang itu, sejumlah foto publik figur menempel di dinding dengan tagline beraroma kopi. Seorang  sahabat belum juga datang saat pelayan bertanya pesan apa. Akhirnya, kami pesankan segelas kopi untuknya.

Bagi penggemar kopi, hidangan segelas kopi hangat  pastilah menggembirakan. Dalam gelas kopi itu, terbayangkan saripati kenikmatan hingga tegukan terakhir. Nah, kebetulan sahabat yang terlambat datang itu bukan peminum kopi sejati. Setiap kali ke warkop, pesanannya tak jauh-jauh dari teh susu atau teh biasa, bahkan air mineral  saja.

Air mukanya berubah saat mengetahui sudah dipesankan segelas kopi. Apa boleh buat, ia memaksakan diri untuk meneguk seduhan kopi itu. Sungguh pahit katanya dan nyaris saja ia muntahkan  kembali dari mulutnya.  Tapi kami berusaha menyakinkan bahwa kopi yang diminumnya itu merupakan racikan kopi terbaik. Namun, dia kukuh menyatakan tidak enak dan sungguh pahit. Sedangkan kami merasakannya kopi itu sungguh nikmat, rasa manisnya sungguh pas dan tidaklah pahit.

Sama-sama kopi, tapi rasanya berbeda yaitu pahit dan manis. Kalau begitu, apakah kopi itu pahit atau manis? Pahit atau manis ternyata bukan urusan zat kopinya belaka, melainkan urusan dimana kopi itu berada.  Buktinya, segelas kopi yang sama bisa mendatangkan sensasi berbeda bagi orang yang berbeda.

Perkara dimana kopi itu berada berarti itu urusan wadah penampungnya atau penerimanya. Saat hendak menyeruput kopi, kondisi tubuh kita telah bersiap memberi respon. Jika ada stimulus maka akan ada respon. Bagi mereka yang tidak suka kopi, maka respon untuk menerima kehadiran kopi dalam dirinya lebih kecil dibanding pecandu kopi. Itulah sehingga pahitnya kopi begitu sangat terasa.

Jika ada dua takaran kopi yang persis sama lalu dimasukkan dalam wadah air yang kecil dan besar, maka kopi yang dimasukkan dalam wadah air yang lebih kecil akan terasa lebih pahit. Makin kecil wadahnya, makin pahit pula kopinya.

Sebaliknya, semakin besar wadahnya, tingkat  kepahitan kopi akan semakin menurun bahkan hilang sama sekali. Sesendok kopi yang dimasukkan dalam segelas air, tingkat kepahitannya tidak akan sama jika sesendok kopi itu dimasukkan  dalam seember besar air. Apatah lagi, jika dimasukkan dalam kolam, danau, sungai atau laut. Rasa kopi yang pahit akan hilang jika ditampung dalam wadah yang besar dan lapang.

Kehidupan ini kadang terasa pahit, getir, susah dan penuh cobaan. Dicemooh orang, dicaci maki, black campaign, difitnah dan seterusnya. Ibarat kopi, maka penawar rasa pahitnya adalah wadah yang besar yaitu hati yang lapang. Kalau hati dibuat lega dan lapang, maka kepahitan hidup itu justru bisa menjadi stimulus untuk bangkit, bukan malah menggiring pada keterpurukan. Tak ada kopi yang pahit di dalam wadah yang besar.

Logo Header Menu
web
analytics