counter easy hit
160×600 Banner
160×600 Banner

Pancasila…!

New Banner Semen

KOLOM ANDI SURUJI – Sudah tetap rumusan Pancasila oleh para pendiri bangsa ini. Banyaklah pengorbanan mereka untuk mencapai rumusan itu. Pengorbanan individual maupun kelompok dan golongan.

Perumusan sila-sila itu juga melalui perdebatan sengit. Pergumulan pemikiran yang sangat mendalam lalu beradu gagasan yang ketat. Tujuannya sama, menjadikan Pancasila sebagai Dasar Negara, palsafah hidup bangsa, bukan yang lain.

Karena itu tidak perlu membuang tenaga untuk mengganggunya. Apalagi Pancasila sudah terbukti sakti, tak bisa tergantikan dengan ideologi apa pun.

Pancasila, rumusannya memang sudah oke…! Penghayatan dan pengamalannya yang terasa belum pas. Ibarat baut dan mur, mungkin mengendur sehingga harus disetel ulang.

Dalam lima sila, selain kata “yang” sebagai kata penghubung, hanya dua kata yang berulang, yakni “adil” dan “rakyat”.

Kata adil ada di sila kedua (adil) dan lainnya dalam sila kelima (ke-adil-an). Sementara kata rakyat ada dalam sila kelima (rakyat) dan sila keempat (ke-rakyat-an).

Betapa pentingnya kedua kata tersebut dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Rakyatlah yang tersebut dalam pancasila. Rakyatlah yang berdaulat. Dapat ditafsirkan bahwa apa pun kebijakan negara haruslah berorientasi pada rakyat. Rakyat yang mana? Ya rakyat seluruh Indonesia, tanpa memandang bulu.

Kata adil, juga begitu. Apa pun kebijakan dan keputusan para penyelenggara negara, maka pertama-tama yang harus diperiksa adalah adil, keadilan. Sudah adilkah suatu kebijakan bagi seluruh rakyat? Apakah sudah mewakili rasa keadilan dan perasaan adil bagi rakyat?

Mengapa harus rasa keadilan yang ditonjolkan? bukan persatuan, kemanusiaan? Rasa adil cukup susah terpenuhi karena bisa bergantung pada rasa seseorang. Bayangkan kalau ada 250 juta penduduk Indonesia berarti ada 250 juta rasa.

Namun demikian, dengan pertimbangan rasa, bisa jadi perasaan keadilan tidak terpenuhi secara utuh tetapi dapat dipahami dan dimaklumi serta diterima. Tercapainya pengertian dapat diterima secara rasio dan rasionalitas. Misalnya suatu kebijakan yang berpihak pada orang banyak. Mungkin yang minoritas merasa tidak adil, namun karena ada konsensus nasional, maka minoritas dapat memahaminya. Begitu juga sebaliknya secara rasa adil bagi minoritas tetapi dapat dipahami dan diterima oleh mayoritas.

Oleh karena itu tugas negara dan penyelenggara megara, pertama-tama dan utama harus memastikan untuk memenuhi rasa adil dan tercapainya rasionalitas yang dapat dimaklumi dan diterima dengan baik secara bersama ileh mayoritas dan minoritas.

Dengan tecapainya keadilan maka dengan mudah masyarakat untuk melangkah ke area bermusyawarahan dan bermufakat (sila keempat). Dengan musyawarah dan mufakat, masyarakat akan kuat bersatu (sila ketiga : persatuan Indonesia). Tanpa musyawarah dan mufakat atau kemufakatan, persatuan akan sulit tercipta.

Jika rakyat sudah kuat dalam rasa persatuan (Sila ketiga : Persatuan Indonesia), tanpa bicara mayoritas san minoritas lagi, maka yang banyak akan melindungi yang sedikit, yang kuat akan membela yang lemah, yang kaya akan menolong yang miskin. Maka itulah sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab.

Saling memanusiakan sesama manusia Indonesia, berarti kita telah menjunjung tinggi sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa), kita cinta Tuhan, mengamalkan amanah Tuhan. Hanya manusia beradab yang dapat menanamkan semangat ketuhanan, cinta dan kasih sayang terhadap sesama manusia ciptaan Tuhan tanpa terkotak dalam bingkai kita dan mereka, kami dan kalian, saya dan kamu.

Itulah sekelumit pemikiran untuk membumikan dan menanamkan pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, siapa pun kita. Saya tidak berpretensi mengubah susunan sila-sila Pancasila. Saya hanya menyodorkan gagasan, setidaknya mengingatkan akan suatu semangat bersama dalam bertindak, dalam upaya menjaga, membumikan pengamalan sila-sila Pancasila dalam hidup dan kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia Indonesia yang pancasilais.

Saya mengarusutamakan dan menekankan adil dan keadilan dan rakyat, karena ketidakadilan itulah sumber dari segala sumber konflik. Ketidakadilan ekonomi, hukum, di bidang birokrasi, pemerintahan dan semua sendi kehidupan, akan menjadi ladang subur tersemainya benih-benih perlawanan terhadap ketidakadilan.

Ketika rakyat Kalimantan susah setengah mati memiliki sepetak tanah sekadar untuk membangun rumah kehidupan, tetapi tiba-tiba hutan Kalimantan ratusan hektar dikuasai seseorang dari luar, adilkah? Korupsi, pungli, nepotisme, kolusi, jual beli pasal, makelarisasi kasus hukum, adalah perbuatan ketidakadilan. Melukai rasa keadilan, dan menabrak bahkan meruntuhkan sila-sila Pancasila. (*)

penulis Andi Suruji

Tulisan ini juga dimuat di Tribun Timur

Logo Header Menu
web
analytics