counter easy hit
160×600 Banner
160×600 Banner

Pasar Butung, Kesialan di Usia Satu Abad

Dirut PT BMO, Andi Suruji - (handover)
New Banner Semen

KOLOM ANDI SURUJI – Pasar Butung, salah satu pusat grosir modern di Makassar, disebut-sebut sebagai pusat perdagangan grosir terbesar di kawasan timur Indonesia, bersama Pasar Sentral Makassar.

Para pedagang baru saja pada bulan Mei 2017, merayakan usia satu abad pasarnya yang terbilang modern itu, dengan berbagai acara penuh suka cita. Tetapi suka cita itu hanya sebulan. Rabu (7/6/2017), siang Pasar Butung yang historikal itu terbakar. Duka bagi para pedagang.

Passer Boetoeng, nama yang diberikan oleh Belanda, karena di kawasan ini “tempo doeloe” bermukim banyak orang Buton, Sulawesi Tenggara. Ia terletak di Jalan Butung, dekat dari Pelabuhan Makassar.

Dahulu Pasar Butung sempit, pengap, bahkan terkesan kumuh. Pasca renovasi, kini sudah modern. Dilengkapi fasilitas lift dan eskalator, pendingan udara, tidak ada lagi asap rokok, dan food court.

Akan tetapi, bala tak kuasa mereka tolak. Pedagang baru saja membuka dagangan. Maklum bulan puasa, aktivitas bisnis mulai agak siangan. Namun bukan transaksi besar yang mereka dapatkan, tetapi api tiba-tiba mengejutkan, membesar dan melalap lantai tiga.

Pedagang panik, menangis, lari tunggang langgang, berhamburan menyelamatkan diri dan barang yang masih dapat dibawa keluar. Jalan sekitar, seperti Jalan Sulawesi, Tentara Pelajar macet total. Padahal, di bulan ramadan, biasanya masa panen pedagang. Transaksi bisa berlipat kali.

Posisi letaknya di dekat Pelabuhan Makassar, menjadikan Pasar Butung terkenal dan cepat disinggahi pebisnis, khususnya pedagang antar pulau. Barang-barang asal Surabaya dan Semarang, atau Jakarta, khususnya garmen, mudah transit di sini. Dari sini barang grosir kemudian terdistribusi ke pelosok Sulawesi, Maluku, dan daerah Indonesia bagian timur lainnya oleh para pedagang.

Triliunan uang berputar di pasar ini. Banyak orang kaya Makassar, dari kalangan etnis Tionghoa, Bugis, Makasaar, dan lainnya, lahir dari usaha toko sempit di pasar sempit itu dulu. Kini, sudah generasi kedua atau ketiga yang melanjutkan usaha orang tuanya. Bahkan banyak di antara mereka yang kemudian berekspansi ke luar Makassar, menjadi saudagar sukses di daerah lain.

Belum jelas sumber api. Pasukan pemadam kebakaran Kota Makasar berdatangan dari berbagai sudut kota, dengan sirine meraung-raung, untuk menggempur api agar cepat padam.

Raungan sirine membuat bulu kuduk bergidik merinding. Seperti halnya raungan dan rintihan para pedagang yang meratapi nasib toko dan barang dagangannya dilalap api.

Pekerjaan rumah buat Walikota Makassar, Dhany Pomanto. Betapa tidak, kemelut antara pedagang dan pengembang Pasar Sentral setelah renovasi pasca kebakaran juga, belum tuntas. Kini giliran Pasar Butung lagi yang terbakar.

Pasar Butung dan Pasar Sentral adalah jantung perekonomian Makassar dan Sulawesi Selatan pada umumnya. Maklum, perekonomian Makassar dan Sulawesi Selatan masih didominasi perdagangan. Industrialisasi masih berjalan lambat. Dari Pasar Butung dan Pasar Sentral banyak lahir saudagar Bugis-Makasaar yang tangguh dan sukses.(*)

web
analytics