counter easy hit
160×600 Banner
160×600 Banner

Rindu Ramang Tersenyum Kembali

New Banner Semen

KOLOM ANDI SURUJI – Ramang, sebuah nama, legenda sepakbola. Bukan saja di pentas bola nasional, juga panggung jagat raya. Ia tercatat sebagai pelaku utama dalam sejarah bola Indonesia.

Rekam jejaknya di Asia tercatat. Federasi sepakbola dunia, FIFA, pun menorehkan namanya dengan tinta emas sebagai bagian intergral sejarah panjangnsepakbola Indonesia maupun Asia.

Ia lahir di kampung. Tanpa pendidikan memadai, apalagi sekolah sepakbola. Kondisi gizi masyarakat masih buruk. Akan tetapi dalam serba keterbatasannya, ia meroket laksana bintang di angkasa raya, ya bintang sepakbola.

Ia mengharumkan namanya sendiri. Bersama timnya, ia membela dan mengibarkan panji kebesaran klubnya Persatuan Sepakbola Makassar (PSM). Juga gairah bola di kotanya, Makassar. Itulah sebabnya, setiap pemain yang memperkuat PSM, akan dijuluki anak-anak Ramang, atau Pasukan Ramang. Ada getaran moral dan tanggung jawab yang dikandung julukan itu. Moralitas membela nama besar Ramang, Makassar dan PSM.

Ramang memang sudah lama tiada, bersemayam di alam kubur. Namun semangatnya, spirit juara, harus terus membara dalam jiwa pasukannya. Pada jiwa setiap pemain PSM.

Para pemain PSM memang bukan anak biologisnya, tetapi mereka adalah anak-anak psikologis Ramang. Itulah makanya tim PSM dijuluki anak-anak Ramang.

Ibaratnya, kita semua pencinta PSM, menanti Ramang bangkit untuk tersenyum kembali, setelah sekian lama murung. Ya murung karena prestasi PSM sempat melorot. Andaikan dia hidup kembali Ramang akan tersenyum manakala anak-anaknya mengembalikan supremasi PSM di jagat sepakbola nasional.

Itulah dambaan Ramang, dan tentu saja kita pecandu bola, pencinta dan pembela panji PSM. Kita memendam impian, dan gairah yang membara. Sebagaimana dikatakan CEO PSM Munafri Arifuddin, PSM bertekad membawa pulang piala kemanangan, gelar juara nasional, ke Butta Mangkasara.

Tangga menuju puncak kejuaraan, tampaknya sedang ditapaki satu demi satu oleh PSM. Sejumlah nama besar, seperti Persipura Jayapura, Arema FC, Persija, Perserui, takluk di awal musim kompetisi. Di stadion Mattoanging, bunga-bunga musim semi seolah sedang mekar dan milik PSM berikut publiknya, tetapi musim gugur bagi lawan-lawannya, siapa pun dia.

Benteng-benteng PSM terasa semakin solid mempertahankan setiap jengkal wilayah permainan. Lini tengah kian padu membentengi gawangnya dan menyusun serangan balik secepat kilat. Barisan penyerang semakin kompak membangun gempuran bertubi-tubi. Itulah makanya produktivitas gol PSM semakin meningkat.

Satu catatan penting patut dikalkulasi akurat. Barisan penyerang harus membangun serangan lebih variatif. Tidak melulu bertumpu dari sektor kiri sehingga dengan mudah dibaca lawan. Terbukti ketika serangan lebih awal dibangun dari sektor kanan, Pluim yang keluar mengambil posisi di sayap, dengan kecepatan dan kematangannya, mampu membuahkan gol indah, menjebol gawang Persipura.

Ah, Robert Alberts, sang arsitek pasukan PSM, lebih tahu apa yang harus dilakukan. Sejauh ini ia telah menunjukkan grafik meningkat signifikan dalam membangun dan membentuk soliditas timnya. Produktivitas gol meningkat.

Robert paham karakter PSM, karena sebelumnya ia telah menangani tim ini. Saya masih ingat, pernyataannya dalam jumpa pers pertamanya setelah resmi menangani Juku Eja ini. Robert Alberts menyatakan, dia kembali untuk menuntaskan tugasnya yang belum kelar.

Meneer…! Kerja tuntas itu manakala Anda mampu – ibaratnya – membuat Ramang dan kita semua tersenyum lebar, puas dan bahagia mengantar PSM TIBA di puncak tangga juara kompetisi yang amat keras dan bergengsi ini.(*)

Andi Suruji, Pemimpin Umum Tribun Timur dan CELEBESonline.com. Tulisan ini dimuat Tribun Timur Edisi Rabu, 7 Juni 2017

web
analytics