counter easy hit
160×600 Banner
160×600 Banner

Karya Tulis Ilmiah Mahasiswi UMI Dapat Respon Positif dari Dewan Hakim MTQMN XV

-
New Banner Semen

CELEBESonline.com, Malang – Kafilah UMI yang mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Nasional (MTQMN) XV tahun 2017 di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang, telah tampil pada beberapa lomba.

Pada hari ketiga, Senin (31/7), salah satu lomba yang mendapat perhatian dari tim juri dan penonton adalah presentasi Karya Tulis Ilmiah Kandungan Alquran, dengan judul “Pembuatan Sel Surya Berbahan Dasar Zat Warna Buah Buni (Antidesma bunius L.), (Inspirasi Energi Terbarukan dari Q. S. An Nur : 35 dan Q.S. Yasin : 80), yang dibawakan oleh Andi Rina Ayu Astuti dan Fasdilah Ali, keduanya mahasiswa Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri UMI, di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya, Malang.

Andi Rina Ayu Astuti dan Fasdilah Ali dalam paparannya mengatakan, krisis energi yang melanda dunia saat ini juga dirasakan di Indonesia. Pasokan utama energi di Indonesia masih didominasi oleh minyak bumi sebesar 41% dari total penggunaan energi Indonesia.

Pada aspek lingkungan, penggunaan bahan bakar fosil pembangkit listrik mengakibatkan pemanasan global. Salah satu sumber energi yang melimpah adalah energi surya termasuk di Indonesia, apalagi geografis Indonesia yang berada di daerah khatulistiwa yang hampir sepanjang tahun mendapat radiasi sinar matahari.

Energi surya sebesar ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik dengan menggunakan piranti sel surya yaitu suatu piranti yang dapat mengkonversi energi matahari menjadi energi listrik.

Dalam Alquran S. An Nur ayat 35 dijelaskan “Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tidak di sentuh api, cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Ayat tersebut menjelaskan, yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat adalah sebuh perumpamaan apabila memperhatikan arah mata angin kalau bukan timur dan barat yaitu berarti utara dan selatan atau perumpamaan kutub magnet. Magnet (elektro magnetik) berguna sebagai pembangkit induksi listrik untuk menghasilkan energi listrik.

Tumbuhan yang memiliki kandungan antosianin berpotensi sebagai bahan baku dalam pembuatan sel surya, ini ada pada buah buni (Antidesma bunius L.). Oleh karena itu, buah buni yang belum termanfaatkan dengan baik sangat menarik untuk dilakukan pengembangan.

Kandungan antosianin pada buah buni dan potensi keberadaan yang melimpah di Indonesia khususnya, merupakan bahan baku pembuatan sel surya. Sehingga jika produks sel surya berbahan dasar zat warna dapat menyelamatkan beberapa aspek dari kerusakan mulai dari lingkungan hingga krisis energi.

Prinsip kerja dari penelitian ini ini yaitu sama halnya dengan cara kerja fotosintesis pada tumbuhan yaitu memanfaatakan cahaya matahari dan zat pada bagian tumbuhan.

Hal tersebut telah termaktub dalam alquran S. Yasin ayat 80, “yaitu (Allah) yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu”.

Pada proses fotosintesis, tumbuhan mengikat matahari menggunakan zat warna (klorofil) untuk menghasilkan cadangan makanan seperti glukosa (pati) dan zat makanan lainnya. Prinsip kerja ini merupakan rujukan utama dalam pembuatan sel surya dari zat warna buah buni.

Sel surya ini menggunakan bahan utama yakni zat warna buah buni (antosianin) untuk menangkap cahaya matahari dan akan menghasilkan energi listrik. Selain itu, juga terdapat bahan kimia sintesis lainnya sebagai penunjang pembuatan sel surya zat warna ini.

Sel surya berbasis zat warna menggunakan buah buni karena terdapat kandungan antosianis sebagai pigmen penyerap foton matahari dan terdapat penambahan bahan kimia sintesis yaitu TiO2 sebagai media absorber zat warna yang memiliki band gap lebar.

Tidak hanya itu, mereka juga telah berhasil membuat kaca konduktif transparan sebagai modifikasi dari kaca konduktif asli dengan harga pasaran sebesar Rp 600.000/ 10×10 cm, sedangkan mereka hanya membutuhkan modal sebesar Rp 1500 dengan ukuran dan efisiensi yang hampir sama.

Paparan hasil penelitian mahasiswa teknik kimia FTI-UMI tersebut mendapat respon positif dari dewan hakim yang berjumlah 5 orang, semua antusias bertanya, bahkan waktu yang disediakan sudah habis, pertanyaan masih terus diajukan, semua pertanyaan dapat dijawab dengan baik, sehingga penonton memberi aplaus.(*)

web
analytics