counter easy hit
160×600 Banner
160×600 Banner

Integritas Tukang Ledeng

-
New Banner Semen

KOLOM ANDI SURUJI – Ketika merenovasi minor rumah di Makassar, beberapa bulan lalu, untuk ditinggali, meteran airnya semakin tenggelam. Ia perlu diangkat naik supaya tidak semakin terbenam.

Kebetulan pencatat meteran air datang. Saya sampaikan keinginan itu. Dia pun meresponnya dengan baik. “Owh kontak ke kantor saja Pak. Saya kasi nomor kantor. Nanti orang tekniknya datang, cepat ji itu..” katanya meyakinkan, dengan dialek Makassar.

Apa Anda bisa bantu melaporkannya?
“BIsa tonji (juga), Pak,” katanya lagi.

Alhasil, pada hari yang sama, datanglah orang teknik yang dimaksud, lengkap dengan peralatannya. Orang inilah biasa dipanggil dengan gelar Tukang Ledeng. Dia pun menunjukkan semacam surat perintah kerja dan semacam invoice sederhana atau kuitansi. Ia menjelaskan ongkos kerjanya, sekitar 200 ribu rupiah. Ok sepakat.

Dengan gesit, ia menyelesaikan pekerjaannya. Cepat sekali dia bekerja. Setelah dibayar sesuai harga yang tertera pada nota, pulanglah dia. Ucapan terima kasih dan pujian mengenai kecepatannya bekerja, membuat dia tersenyum puas, melangkah pulang.

Dua hari kemudian, ia datang lagi. Padahal saya tidak komplain apalagi memanggilnya datang kembali. Saya pikir itu mungkin standar prosedur layanan konsumen PDAM Makassar. Dia datang untuk mengecek dan memastikan pekerjaannya tidak ada masalah, pikirku begitu.

Ternyata tidak. Lebih dari sekadar mutu pelayanan. Ia datang mengembalikan uang yang saya bayarkan sebagai biaya pemerjaan. “Menurut orang kantor, kalau pekerjaan seperti ini tidak dikenakan biaya Pak, jadi saya disuruh mengembalikan uang ta Pak,” katanya.

Terharu. Hati bergetar. Ternyata masih ada integritas pada orang kecil. Kalau dia mau bisa saja dia ambil uang itu, tidak mengembalikannya. Saya tidak mungkin mengecek lagi apa betul harus bayar. Pimpinannya pun tentu terlalu sibuk untuk mengecek apakah dia sudah mengembalikan uang tersebut, apakah kami telah menerimanya kembali. Tetapi satu hal yang ditunjukkan dari sistem dan prosedur di perusahaan itu ialah integritas pegawainya.

Saya bandingkan attitude tukang ledeng itu dengan tukang taman yang mengerjakan taman kecil di rumah itu juga. Kembang yang dijanjikan tidak sesuai dengan yang diperjanjikan. Baik jumlah maupun mutunya. Belum lagi batu-batu alam yang dijanjikan untuk melengkapi taman, sekitar satu kali satu meter. Semula janjinya hanya dua hari batu-batu itu akan diantar. Nyatanya sudah berbulan-bulan belum juga diantar.

Lebih parah, attitude tukang taman yang punya usaha di kawasan Tanjung, itu sangat buruk. Sebab, mula-mula kalau ditelpon masih dijawab: segera diantar. Tapi sampai kini, batu itu tak pernah ada. Bahkan panggilan telpon pun sudah tidak direspon.

Dari dua kasus ini, saya belajar tentang integritas yang kuat dan respons layanan yang cepat sebagai jiwa bisnis. Keduanya (respons dan integrity) bisa muncul dan kuat dalam sikap dan perilaku karyawan PDAM itu, tentu karena adanya pembinaan karakter (attitude) yang ditanamkan dan ditempakan pada mereka.

Ya seperti itulah corporate philosofi atau corporate culture yang ditanamkan Haris Yasin Limpo selaku Direktur Utama PDAM Makassar kepada seluruh jajarannya pada semua level. Attitude, Integrity, dan Respons yang disingkat AIR… Air itulah filosofi, kultur, dan kehidupan yang berkelanjutan bagi perusahaan air minum.

Related posts

CELEBESONLINE