banner pasang iklan
banner pasang iklan

Berebut Hutan Lindung, Dua Kelompok Warga Nyaris Bentrok di Lutim

Tim gabungan saat memediasi dua kelompok warga yang nyaris bentrok - (son)

CELEBESonline.com, Lutim – Perebutan kawasan cagar alam dan hutan lindung di Desa Tarabbi dan Parumpanai Luwu Timur, nyaris berbuah petaka. Dua kelompok warga yakni kelompok Sanjaya dan Kelompok Nasir, nyaris terlibat bentrok fisik.

Untung saja kejadian itu bisa dicegah oleh Tim Gabungan Pemkab Lutim yang terdiri dari Kabag Pemerintahan Lutim, Camat, Satpol PP, Kesbang Pol, Polres Lutim dan TNI AD Sawerigading serta Kepala UPTD dinas Kehutanan Provinsi Sulsel di Lutim.

Awalnya, di Lokasi yang terletak di perbatasan Desa Tarabbi dan Parumpanae, kedua kubu sudah saling berhadapan. Kedua kelompok sama-sama ingin menguasai kawasan cagar alam dan kawasan hutan lindung untuk dikapling dan diperjualbelikan kepada siapa saja yang ingin membuka kebun di dua daerah  tersebut. Tim Gabungan yang tiba di lokasi kemudian mendapati ratusan hektar hutan di kawasan cagar alam tersebut sudah gundul dibabat warga.

Nasir yang mengaku Kelompok Tani Beriman yang memasukkan orang membabat kawasan Cagar Alam tersebut. Dia berdalih Lahan tersebut miliknya karena sudah menang di MK.  Namun saat diminta salinan Putusan MK Nasir mengaku tidak ada.

Adapun kelompok Sanjaya mengaku ikut membabat hutan cagar alam karena melihat aksi kelompok Nasir yang leluasa membabat hutan tanpa tindakan dari aparat Hukum. “Masa orang luar bisa membabat, kami ini orang di kampung ini mau tinggal diam saja,” ungkap Sanjaya. Alhasil tim gabungan pun melarang aktivitas di kawasan cagar alam dan kawasan hutan lindung.

Wakil Bupati Luwu Timur,  Irwan Bachri Syam mengatakan Luwu Timur saat ini sudah darurat hutan.  Banyak kawasan hutan lindung dan cagar alam sudah di rambah warga. “Ini kondisinya sudah parah karena tidak ada tindakan tegas dari provinsi,  karena itukan kewenangan provinsi,” tandas Irwan, Kamis, 18 Januari 2018.

Berdasarkan peninjauan di lapangan, kawasan cagar alam dan hutan lindung yang sudah dirambah warga berada di Desa Tarabbi, Mahalona, Pekaloa, Lampia, Malili, Parumpanai,  kasintuwu dan Bone Pute. ” Sudah parah sekali kondisinya, Ini coba lihat nyata-nyata cagar alam dan hutan lindung masih saja disikat,” kata Irwan.

Aksi perambahan ini jelasnya tidak bisa dibiarkan karena akan menyebabkan kerusakan lingkungan. Umumnya lahan yang dibabat berada di daerah hulu dan di ketinggian.

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CELEBESONLINE