banner pasang iklan
banner pasang iklan

Bosowa Semen Minta Pemerintah Batasi Ijin Pendirian Pabrik Baru

Bosowa Semen - Apri

CELEBESonline.com, Makassar –  Penjualan semen dari PT Bosowa Semen di tahun 2017 mengalami pertumbuhan di bawah growth nasional yaitu 6 persen. Hal ini disampaikan Marketing Divison Head Bosowa Semen, Febby Triady, kepada media, Kamis (18/1/2018) sore.

“Growth nasional tahun 2017 itu 6 persen dan kita masih di bawah itu  tapi masih on track,” kata Febby.

Tahun 2017, kapasitas produksi semen sekitar 106 juta ton. Sementara, serapan konsumen sekitar 60-70 juta ton. Artinya masih ada over suplai sekitar 30-40 juta ton. Kontribusi terbesar dari wilayah bagian barat yaitu Sumatera dengan adanya pembangunan infrastruktur Trans  Sumatera.

Sementara Bosowa Semen dari pabrik di Maros memproduksi 4,2 juta ton. Jika dikalkulasi dengan dua pabrik lainnya yaitu di Batam dan Bayuwangi, maka total produksi sebesar 7,2 juta ton.

Deman semen di Sulsel setiap tahunnya berkisar 2,5 juta ton, sedangkan di Sulawesi mencapai 5 juta ton. Sementara di Sulsel, selain Bosowa Semen, ada juga pabrik Semen Tonasa.

Dengan permintaan tersebut, maka dipastikan pasokan semen dari dua pabrik ini sudah melimpah dan mampu memenuhi kebutuhan semen masyarakat, bahkan bisa dikatakan over kapasitas.

Ditambah lagi, dalam beberapa bulan ke depan, satu lagi pabrik semen akan beroperasi di Sulawesi Utara. Ini akan menambah pasokan semen di Tanah Air, khususnya untuk wilayah Indonesia timur.

Karena itu, diharapkan pemerintah bisa lebih peka terhadap over suplai semen di Indonesia. Febby menyebutkan bahwa investasi memang harus dipelihara dengan baik, tapi bukan berarti industri semen saat ini tetap diperhatikan.

“Kita harapkan, melalui asosiasi, agar pemerintah tidak lagi memberikan ijin untuk pendirian pabrik semen. Kita dorong agar pemerintah membatasi investasi pabrik semen baru,” ucap Febby.

Dikhawatirkan, jika ada over produksi, maka yang terjadi di lapangan adalah terjadinya perang harga. Belum lagi ada pabrikan luar yang ikut bermain di pasar semen Tanah Air, sehingga produksi makin melunjak.

“Pemerintah harusnya lihat apakah daerah memang membutuhkan didirikan pabrik semen baru? Di Sulsel misalnya, sudah ada Bosowa dan Tonasa. Itu sudah cukup memenuhi kebutuhan semen di Sulsel bahkan Sulawesi. Jadi, untuk apa lagi ada pabrik baru?” urai Febby.

Febby mengatakan bahwa moratorium ijin baru ini akan memberikan ruang bagi industri yang ada saat ini untuk mengembangkan usahanya.

Jika pemerintah bisa mengerem pemberian ijin pendirian pabrik baru, Asosiasi Industri Semen di tanah air optimis pertumbuhan semen di tahun 2018 ini akan naik, minimal menjadi 7 persen.(*)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CELEBESONLINE