banner pasang iklan
banner pasang iklan

Peraih 2 Kali Piala Citra Berbicara Tentang Film ‘Silariang Cinta Yang (Tak) Direstui’

-

CELEBESonline.com, Makassar – Film Silariang Cinta Yang (Tak) Direstui (SCYTD) berhasil menyita perhatian masyarakat, terutama di Majassar. Sejak tayang perdana 18 Januari lalu, film ini telah ditonton oleh puluhan ribu orang.

Tak hanya di Makassar, film ini juga laris di berbagai kota di Indonesia. Film yang mengangkat budaya dan kearifan lokal Bugis Makassar ini memang pantas disebut sebagai salah satu film lokal yang sukses di pasaran.

Hal tersebut tentunya tidak lepas dari akting mumpuni sejumlah pemain didalamnya. Sebut saja seperti Dewi Irawan.

Aktris yang sudah menyabet dua penghargaan Piala Citra tersebut berhasil memainkan karakter sebagai Puang Rabiah, ibunda dari Zulaikha, dengan sangat apik. Dewi Irawan berhasil memainkan emosi penonton dengan karakter bangsawan Bugis yang keras dan kokoh terhadap adat, cara berbicara yang tegas dan lantang.

Ini juga nerupakan salah satu tantangan baginya dalam film ini.

“Tantangannya belajar dialek dan gesture sebagai bangsawan Bugis. Wanita Bugis itu bicaranya tegas, intonasi suaranya tinggi, tidak basa-basi, tidak cengengesan,” ungkapnya.

Dewi Irawan yang notabanenya tidak berasal dari Bugis jelas ia harus belajar untuk mampu memerankan karakter tersebut dengan lugas. Tidak jauh-jauh, ternyata Dewi Irawan belajar dari salah seorang rekannya, Yayu Unru yang merupakan keturunan Bugis.

Yayu Unru juga adalah seorang aktor yang juga telah meraih dua kali penghargaan Piala Citra.

Kesempatan bermain dalam film ini adalah moment yang sangat menyenangkan bagi wanita yang menyukai Coto Makassar ini. Salah satu alasannya karena film ini berlokasi di salah satu tempat wisata terkenal di Sulawesi-Selatan, Rammang-rammang.

Baginya Rammang-rammang adalah tempat yang sangat indah dan mistis.

Tak hanya sampai disitu, Dewi Irawan juga bangga bisa bekerja sama dengan para pemain lokal, seperti Muhary Wahyu Nurba, Sese Lawing, Cipta Perdana, Nurlela, dan Fhail Firmansyah. Dewi Irawan menilai bahwa kemampuan akting para pemain lokal juga patut diacungi jempol.

Mereka berhasil memerankan karakternya masing-masing. Terlihat dari Muhary Wahyu Nurba sebagai Dirham, pengusaha kaya dengan watak yang keras, keteguhan Sese Lawing sebagai Puang Ridwan yang memegang kokoh adat, begitu juga Cipta Perdana sebagai Zulfi yang juga kokoh memegang adat namun disisi lain merasa iba dengan keadaan sang adik, Zulaikha.

Dan Fhail Firmansyah atau Akbar beserta Nurlela atau Dira yang berperan sebagai sepasang suami-istri yang berkat perannya berhasil mengocok perut para penonton. Mereka juga merupakan tetangga dan sahabat Yusuf-Zulaikha selama berada di Rammang-rammang.

“Semua pemain mampu nge-blend satu sama lain, tidak terlihat canggung. Akting mereka terlihat natural walaupun masih awam. Keren,” tambahnya

Dewi Irawan juga berpesan bahwa film ini harus ditonton karena mengandung banyak nilai-nilai moral.

“Tidak hanya soal drama percintaan, tentang culture Bugis-Makassar, film ini juga mengajarkan kita untuk hormat, patuh kepada orang tua dan senantiasa meminta restunya demi keberkahan hidup didunia dan diakhirat kelak nanti,” katanya.

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CELEBESONLINE