counter easy hit
160×600 Banner
160×600 Banner

Fadeli Luran dan Islam Kini

Mantan Gubernur Sulsel HM Amin Syam (kanan) menerima anugerah Fadeli Luran Award dari Ketua Yasdik IMMIM. -
New Banner Semen

KOLOM ANDI SURUJI – Kata pepatah, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Akan tetapi, tokoh dan warga utama yang hidup mulia di Sulawesi Selatan, yakni Fadeli Luran, boleh dibilang meninggalkan dua-duanya, gading dan nama.

Bisa jadi, banyak di antara masyarakat Sulsel sendiri yang tidak tahu siapa di balik keberadaan IMMIM, Universitas Muslim Indonesia, Rumah Sakit Islam Faisal. Eksistensi lembaga pendidikan, keagamaan, dan sosial kemasyarakatan untuk pembangunan dan pengembangan umat itu, lahir antara lain berkat tangan, otak, dan hati dingin almarhum Fadeli Luran.

Lembaga-lembaga yang semakin maju dan modern itu, juga tak terlepas dari pemikiran visionernya. Bahwa Sulsel membutuhkan pembinaan dan pengembangan umat agar tidak terkungkung dalam pemikiran sempit, fanatik buta dan intoleran, tetapi berwawasan luas, modern dan toleran. Baik dalam kehidupan beragama, maupun sosial kemasyarakatan lainnya.

Pemikirannya visioner, walaupun dia cuma mengenyam pendidikan sekolah rakyat (sekolah dasar sekarang). Ia tinggalkan gemerlap dunia dagang yang memungkinkan dia dan keluarganya bergelimang harta kekayaan duniawi. Ia memilih jalur pendidikan dan pembinaan umat sebagai tambang kekayaan surgawi. Kepada sahabatnya, Haji Kalla (ayah Wapres Jusuf Kalla) ia pamit dari dunia bisnis untuk mengurus umat, dan mempersilahkan Haji Kalla melanjutkan aktivitas bisnis.

Haji Kalla sukses. Fadeli Luran pun berhasil. Dia meninggalkan jejak “gading” dan nama yang harum, serta pemikiran yang tidak lekang ditelan zaman. Karena itu, Fadeli Luran Award yang diberikan kemarin kepada Amin Syam, mantan gubernur Sulawesi Selatan, sebelumnya dianugerahkan kepada ulama terkemuka Quraish Shihab, Sanusi Baco, Bakrie Wahid, merupakan manifestasi upaya mengenang sekaligus merawat, melanjutkan dan membumikan pemikiran-pemikiran visioner Fadeli Luran.

Salah satu mutiara brilian dan visioner Fadeli Luran lainnya adalah sikap dan prinsipnya “Bersatu dalam akidah, toleransi dalam furu’ & khiafiyah”, sebagaimana motto yang terpatri pada dinding Masjid IMMIM.

Artinya ketika umat Islam berbicara tentang aqidah, maka cuma ada satu diskusi yakni memahatkan “laa ilaha illallah, muhammadan rasulullah” pada setiap jiwa dan pribadi muslim. Akan tetapi, manakala berbicara furuiyah, ya bisa berbeda-beda dan beraneka ragam namun tetap toleran antara satu dan lainnya.

Hal itu, menurut pandangan pribadi saya, merupakan pergulatan pemikiran yang diterjemahkan secara sederhana dari pesan Nabi Muhammad, Rasulullah, bahwa suatu waktu kelak umatku akan terbagi menjadi 73 golongan. Di sinilah urgensi dan relevansi pemikiran visioner Fadeli Luran. Dia seolah menangkap, memahami, kemudian menerjemahkan ungkapan Nabi sekian abad lampau tersebut.

Tal disangkali, isu terkini dan paling mutakhir bagi umat Islam adalah semakin banyaknya aliran dan golongan yang berkembang pesat. Bahkan, masing-masing mengklaim hanyalah diri dan golongannya yang benar. Lebih fatal, saling mengkafirkan antara satu dan lainnya.

Kalau berbeda, lantas apakah perbedaan itu harus memecah belah umat sehingga Islam ini akan dibiarkan berkeping-keping? Tentu saja tidak kita inginkan.

Dalam suatu diskusi saya dengan seorang sesama jemaah haji asal Pakistan yang bermukim di London, sangat menarik dan relevan juga. Di akhir diskusi tahun 1998 itu, saudara muslim saya tersebut mengatakan, “kita ini umat islam seperti tasbih. Kalau bersatu karena disatukan dengan tali pengikat, kita akan berarti dan kuat serta berguna. Akan tetapi manakala ikatannya diputus maka biji-biji tasbih itu akan bercerai berai, berantakan tak ada gunanya.”

Antara pemikiran dan pemahaman Fadeli Luran yang berpendidikan sekolah rakyat dan teman bergelar Doktor itu sama hakikatnya, walaupun dengan ungkapan yang berbeda. Mereka mendambakan Islam yang kuat karena aqidah, tetapi toleran dalam perbedaan cabang-cabang dan aliran.

Itulah sekelumit pemahaman saya tentang visi besar Fadeli Luran, dalam memaknai penganugerahan Fadeli Luran Award. Fadeli Luran yang senantiasa istiqamah, walau ilmu agamanya tinggi, adalah “gajah” yang meninggalkan “gading-gading” emas buat umat Islam. Islam kini mendambakan Fadeli-Fadeli Luran muda.

Fadeli Luran telah memahatkan nama dan karya bernilai tinggi, yang jauh melampaui zamannya, pada nizan penyembahannya yang paling mendasar sebagai seorang hamba Allah Subhanahu Wata’ala.(*)

Andi Suruji, Pemimpin Umum Tribun Timur dan CELEBESonline.com. Tulisan ini dimuat Tribun Timur, Edisi Jumat (26/5/2017).

web
analytics