counter easy hit
160×600 Banner
160×600 Banner

Rachmat Kaimuddin: Harus Pandai ‘Menjual Diri

Rachmat Kaimuddin saat memberikan kuliah di Fakultas Teknik Unhas di Kabupaten Gowa, Rabu (6/9/2017) - Apri
New Banner Semen

 

CELEBESonline.com, Sungguminasa – Managing Director PT Bosowa Semen, Rachmat Kaimuddin, mengisi sesi Kuliah Tamu di kampus Fakultas Teknik Unhas, Gowa, Rabu (6/9/2017). Dalam kesempatan itu, alumni MIT, Amerika Serikat, itu membawa paparan dengan tema “Peluang dan Tantangan Menghadapi Dunia Kerja”.

Rachmat adalah putra Sulsel lulusan Teknik Elektro dari Massachussets Institute of Technology (MIT) dan MBA dari Stanford University. Perjalanan karir Rachmat berpindah dari berbagai perusahaan antara lain konsultan manajemen, bidang keuangan, dan kini di Bosowa Semen.

Kuliah tamu ini dihadiri ratusan mahasiswa Teknik Unhas, utamanya mahasiswa baru.

Salah satu pesan penting yang disampaikan Rachmat kepada mahasiswa Teknik Unhas adalah belajarlah karena ingin tahu, bukan karena ingin lulus. Menurut Rachmat, pesan itu didapatnya langsung dari Presiden RI ke-3 yaitu Prof Dr Ing BJ Habibie.

Kepada mahasiswa Teknik Unhas, Rachmat memberikan pesan untuk bisa diterima di dunia kerja.

“Pandailah ‘menjual diri sendiri’, dalam hal ini potensi yang dimiliki. Masukkan itu dalam CV Anda, tapi sesuai dengan fakta bukan karangan atau bohong,” kata Rachmat.

“Kita harus mengubah paradigma dimana kita dulunya selalu diajarkan untuk selalu merendahkan diri. Bandingkan dengan orang luar negeri yang selalu diajarkan untuk percaya diri meski sebenarnya tidak ada apa-apanya,” tambah Rachmat.

Pada kesempatan itu juga Rachma menceritakan perjalanan karirnya hingga menjadi pimpinnan di Bosowa Semen.

Karena tidak memiliki biaya, Rachmat sempat menganggur satu tahun, padahal ia sejak SMA bercita-cita kuliah di luar negeri. Karena itu, ia selalu menekankan untuk membuat rencana dan menyiapkan plan B jika Plan A tidak berjalan sesuai keinginan.

Ia menekankan bahwa restu orangtua penting untuk masa depan. Karena orangtua tahu yang terbaik buat anaknya.

“Saat lulus SMA, saya sempat ingin jadi Taruna, karena kalau pakai seragam terlihat gagah. Tapi orangtua tidak memberikan restu,” ucapnya.

“Untungnya orangtua melarang, karena itu menjadi jalan saya bisa kuliah ke luar negeri, di kampus bergengsi lagi yaitu di MIT,” ucapnya.

“Menyesali sesuatu itu jangan berlebihan. Cukup sehari saja, setelah itu bangkit untuk berbuat sesuatu yang bisa mengubah hidup memjadi lebih baik,” tuturnya.

Related posts

CELEBESONLINE