Film 'Silariang: Cinta yang (Tak) Direstui' Tayang di 64 Bioskop Tanah Air Mulai 18 Januari | CELEBES ONLINE
banner pasang iklan
banner pasang iklan

Film ‘Silariang: Cinta yang (Tak) Direstui’ Tayang di 64 Bioskop Tanah Air Mulai 18 Januari

Produser Ichwan Persada, mengulas tentang film "Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui". Film ini tayang di 64 bioskop se Tanah Air mulai 18 Januari - Apri

CELEBESonline.com, Makassar – Satu lagi film layar lebar berlatar budaya Bugis Makassar hadir di perfilman tanah air yaitu “Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui”.

Film “Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui” hadir di perfilman tanah air untuk menggambarkan sebuah kisah percintaan yang selalu happening dari masa ke masa. Dan Silariang sendiri merupakan sebuah isu yang tak lekang oleh jaman di kalangan Bugis Makassar.

Produser Ichwan Persada mengatakan bahwa Silariang menggambarkan bahwa urusan cinta itu universal dan sejuta umat . Semua orang mengalaminya.

“Menurut saya, Silariang itu dari dulu romantik, ini sebuah pilihan dan siap menanggung resikonya,” ucap Ichwan kepada media saat jumpa pers di Mal Ratu Indah (MaRI) Makassar, Sabtu (13/1/2018).

Ichwan yang telah menghasilkan banyak film nasional ini mengaku bisa bernafas lega. Pasalnya, hasratnya sejak dulu untuk bisa membuat film tentang “silariang” akhirnya terwujud.

“Sati dulu selalu ingin bikin film tentang ini. Sejak merantau dan telah membuat sejumlah film, belum ada kesempatan untuk bikin film di kampung sendiri. Baru kali ini akhirnya kesampaian,” ucap Ichwan.

Film ini merupakan kolaborasi talenta Tanah air, antara Makassar dan Jakarta. Pemeran utamanya adalah aktor muda Indonesia, Bisma Karisma dan Andania Suri serta Dewi Irawan yang telah dua kali meraih Piala Citra. Mereka berkolaborasi dengan aktor lokal Makassar seperti Nurlela M Ipa, Muhary Wahyu Nurba, Sese Lawing, Cipta Perdana, dan Fhail Firmansyah.

“Ini adalah film nasional, buka film lokal atau daerahnya. Tidak ada aktor nasional dan lokal, tapi mereka adakah aktor nasional,” ucap Ichwan.

Film “Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui” merupakan produksi perdana rumah produksi asal Makassar, Inipasti Communika, bekerjasama dengan Indonesia Sinema Persada, dengan melibatkan sineas-sineas muda Indonesia hasil kolaborasi Makassar dan Jakarta. Sebut saja Wisnu Adi, sebagai sutradara, Kunun Nugroho sebagai co-sutradara, penulis skenario Oka Aurora, dan Luna Vidya sebagai pengarah peran, serta banyak lagi.

Mempercayakan penyutradaraan film ini kepada Wisnu Adi bukanlah hal yang sulit bagi Ichwan karena yang sebelumnya Wisnu sudah menyutradarai film “Miracle: Jatuh dari Syurga” yang diproduseri oleh Ichwan Persada.

“Kesederhanaan cerita ini ini menjadi daya tarik tersendiri. Film ini mengangkat realita yang sering terjadi di kehidupan kita. Cerita tentang cinta yang akhirnya menjadi sangat rumit. Cerita tentang keluarga, sosok ibu, perkawinan siri, bibit-bebet-bobot,” jelas Wisnu.

Proses produksi film “SILARIANG: Cinta Yang (Tak) Direstui” sejak pertama kali riset, penulisan, hunting lokasi, proses latihan dialek Makassar serta syuting film hingga post production menghabiskan waktu yang cukup panjang. Meski tak menyebutkan lokasi spesifik di adegan film, sebagian besar gambar direkam di lokasi wisata eksotis, Rammang Rammang, yang tengah dibidik menjadi primadona pariwisata. Rammang Rammang berjarak sekitar sejam perjalanan dari Makassar.

Dalam pemilihan para pemain, para pembuat film tak memiliki kesulitan dalam proses pemilihan karakter. Sekitar sebulan sebelum syuting, secara intensif para pemain dari Jakarta digempleng untuk melatih dialek Makassar. Untuk karakter Zulaikha yang diperankan oleh Andania Suri juga ada treatment khusus karena perannya sebagai bangsawan Bugis.

“Dalam mendalami peran dan latihan dialek Makassar, saya butuh waktu 3 bulan. Awalnya sulit luar biasa karena belum terbiasa. Tapi beberapa waktu tinggal di sana, lama kelamaan jadi terbiasa. Bahkan, setelah syuting selesai pun masih terbawa logat makassarnya,” cerita Andania Suri, pemeran Zulaikha.

Sementara bagi Bisma sendiri, proses pendalaman karakter Yusuf yang ia perankan tidaklah terlalu sulit. “Menjadi Yusuf dalam film ini proses pendalamannya cukup singkat, kok. Cukup dua minggu untuk observasi di Makassar dan proses reading di Jakarta. Justru, kondisi di lapangan saat syuting yang berat karena kondisi cuaca di Rammang Rammang yang drastis perubahannya – sebentar hujan, sebentar panas- sehingga membuat kondisi badan saya cukup kewalahan,” ungkap Bisma.

Film yang mengangkat isu yang tak lekang jaman di kalangan Bugis Makassar berkisah tentang cinta dua insan yang tak direstui. Sebuah kisah cinta yang timeless dan selalu relevan untuk diangkat menjadi sebuah cerita menarik, terutama di kalangan anak muda.

Film “Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui” akan beredar di bioskop di seluruh Indonesia mulai 18 Januari 2018. Film ini akan diputar di 65 kota se-Indonesia.

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CELEBES ONLINE