Atas Nama Rindu Pada Rumah Kecil di Lembah Ramma | CELEBES ONLINE
banner pasang iklan
banner pasang iklan

Atas Nama Rindu Pada Rumah Kecil di Lembah Ramma

Tata' Mandong -

SAYA mengenalnya awal tahun 90an silam kala jalur lintas Gunung Lompobattang via Lembah Loe masih menjadi jalur favorit pendakian saya dan beberapa sahabat berhobi sama. Teduhnya sebuah rumah beratap rumbia di tepi sebuah danau di Lembah Loe selalu memaksa kami untuk berhenti sejenak melepas penat, sekaligus untuk mengugurkan rindu dengan sang pemilik rumah. Kami memanggilnya dengan sebutan Tata’ Mandong.

Pasca longsor Gunung Bawakaraeng 2004 lalu, sosok bertubuh kecil, bersahaja dan  tangguh itu hijrah ke sebuah lembah bernama Ramma di seberang Lembah Loe. Kedua lembah ini terpisah oleh Sungai Jeneberang.

Di Ramma, sesekali saya masih menyempatkan waktu untuk mengunjunginya. Ukuran rumahnya lebih kecil di banding di Loe, tapi Tata’ Mandong mengaku lebih senang karena banyak pendaki gunung yang menginap di sekitar hingga di dalam rumahnya. Di tempat itu, ia beternak ayam dan memelihara ikan di kolam buatan di samping rumahnya.

Minggu, 18 Maret 2018, di sebuah siang yang mendung, saya dan beberapa sahabat menyambanginya di Dusun Panaikang. Dalam perjalanan, beberapa warga yang mengenalnya, memberi tahu kami bahwa pasca menjalani rawat inap di Rumah Sakit Faisal Makassar, Juli 2017 silam, kini Tata’ Mandong melewati hari-harinya di sebuah rumah berlantai dua berdinding batako di Lingkungan Bonto Te’ne, Kelurahan Bontolerung, Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa.

Di rumah yang terletak tepat di depan Masjid Nurul Jihad milik ponakannya bernama Asmawati itu, gemuruh air terjun Takapala sayup terdengar. Asmawati adalah anak dari Daeng Kumi, adik kandung Tata’ Mandong. Di rumah itulah kami mengugurkan rindu padanya. Kami bersalam, berpeluk dan mengirim doa kebaikan buat sesama.

BACA JUGA :  Perempuan Ini Pelakor Kelas Berat, Pengakuannya Bikin Merinding

Kopiah masih setia menutup rambutnya yang kian beruban. Selembar sarung menutup badan ringkihnya. 8 Bulan berlalu dan Tata’ Mandong masih saja bercerita tentang rindu yang merundungnya akan rumah kecilnya di Lembah Ramma.

Suami dari sang ponakan menyuguhkan kopi hitam hangat pada kami. Dari dia pulalah kami mendapat cerita akan rumah kecil Tata’ Mandong di Ramma. “Selalu sekali mau masuk ke rumahnya di Ramma tapi kami larangi. Nda bisa tinggal di sana kodong karena sakit. Nda ada mi juga apa-apa di itu rumahnya,” katanya.

waktu telah merampas begitu banyak dari Tata’ Mandong. Tubuh dulu yang kokoh terbungkus otot, kini kian mengicil dibungkus keriput di kulit yang bahkan tak malu lagi memperlihatkan diri. Stroke yang menyerangnya sejak tahun lalu kerap membuat Tata’ Mandong pun harus memukul-mukul jari-jari kirinya yang sering kram dengan kepalan kanan.

Stroke memang telah mengambil banyak hal darinya, termasuk kemampuan bicaranya yang bahkan menurun hingga ke titik nol. Lidahnya keluh. Memang  salah satu dampak serangan stroke yakni berkurangnya kemampuan bicara. Kondisi ini kata google terjadi karena adanya gangguan otak yang menyerang pusat saraf kemampuan bicara yang disebut afasia dan disartria.

Tata’ Mandong terlihat lebih banyak merenung. Saat berbicara, ia seperti meracau. Seorang sahabat berusaha mengartikan apa makna omongan Tata’ Mandong. Dan kepada sang sahabat, Tata’ mengungkap besarnya rindu untuk kembali ke Ramma. Dia bahkan menitip pesan agar dikebumikan di tanah yang begitu dicintainya itu ketika kelak Sang Pemilik Hidup memanggilnya pulang.

BACA JUGA :  Ini Wasit yang Pimpin Laga Borneo FC vs PSM Makassar

Tapi, Tata’ Mandong tetaplah pria tangguh seperti kami mengenalnya dulu. Waktu memang bisa membuatnya terlihat menua dan menitip beragam penyakit di raganya, tapi semangatnya untuk tetap sembuh dan kembali menghirup damainya hening di Lembah Ramma masih saja ada. “Mau sekali pergi periksa ke dokter, kak, tapi nda ada bedeng uangnya,” terang sang sahabat mengartikan ucapan Tata’ Mandong.

Tak ada lagi suara gemericik air di sela bebatuan di hulu Sungai Jeneberang. Material longsor ratusan juta kubik telah menutup semua celah yang ada dengan ancaman sejuta derita. Kini hanya kenangan yang tersisa, tentang Bawakaraeng, tentang Lompobattang, tentang Ramma, tentang Loe dan tentang Tata’ Mandong. Sehat dan bahagialah, tata’. Akan selalu banyak doa yang kami kirim untukmu. Aamiin.

 

Minggu, 18 Maret 2018

Bonto Te’ne

Penulis : Abo (penggiat alam bebas).

About The Author

Related posts

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CELEBES ONLINE