Sutradara Indonesia Jadi Google Doodle Hari Ini, Siapa Dia? | CELEBES ONLINE
banner pasang iklan
banner pasang iklan

Sutradara Indonesia Jadi Google Doodle Hari Ini, Siapa Dia?

Google Doodle Usmar Ismail -

CELEBESonline.com, Makassar – Hari ini, Selasa (20/3/2018), halaman utama Google menampilkan doodle sosok sutradara asal Indonesia. Dia adalah Usmar Ismail.

Di halaman utama itu terlihat ilustrasi vintage berupa pita film hitam putih dengan seorang pria berkumis dan berkacamata berada di balik kamera dan tiga perempuan sebagai latar belakangnya. Google merayakan ulang tahun ke-97 Usmar Ismail dengan menjadikannya doodle hari ini.

Nama Usmar Ismail tidak asing bagi pecinta film tanah air. Bahkan, namanya juga menjadi salah satu gedung di Jakarta yaitu Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail yang lokasinya ada di kawasan Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Usmar Ismail

Usmar adalah salah seorang tokoh perfilman Indonesia yang juga sutradara terkemuka pada era tahun 1950-an dan 1960-an. Ia juga dianggap sebagai salah seorang yang telah menabur benih untuk pertumbuhan teater dan film di Indonesia.

Studio filmnya miliknya, Perfini, menghasilkan beberapa karya film klasik Indonesia yang sangat dikenang masyarakat negeri ini. Seperti film “Pedjuang” (1960) dan “Enam Djam di Djogdja” (1951) yang fenomenal.

Khusus Doodle hari ini, Google menampilkan citra dari salah satu karyanya yang paling terkenal, “Tiga Dara” (1956). Film itu menceritakan kisah lucu tentang kehidupan terjerat dan cinta tiga perempuan bersaudara.

Ya, Usmar Ismail adalah sosok yang bisa dibilang paling berpengaruh di industri film Indonesia. Ia bahkan dipanggil “Bapak Film Nasional”. Di sepanjang kariernya, Usmar sudah menggarap lebih dari 30 film di Tanah Air. Salah satu karyanya yang begitu fenomenal di jagat sinema lokal adalah film dengan judul “Darah dan Doa” (The Long March of Siliwangi, 1950).

Darah dan Doa merupakan adaptasi dari cerita pendek karya Sitor Situmorang. Kisahnya sendiri menceritakan Sudarto, seorang guru yang terseret revolusi fisik dalam periode perpindahan TNI dari Yogayakarta ke Jawa Barat pada 1948. Film ini bahkan disebut sebagai tonggak hidupnya industri film Indonesia.

Berkat film itu juga, Presiden BJ Habibie dengan Dewan Film Nasional menetapkan Hari Film Nasional berdasarkan hari pertama syuting Darah dan Doa.

Usmar pernah bersekolah HIS, MULO-B, AMS-A II Yogyakarta. Ia melanjutkan studi dengan memperoleh BA. Di bidang sinematografi dari Universitas California, Los Angeles, Amerika Serikat, pada 1952.

Seperti dikutip Wikipedia, Usmar Ismail aktif sebagai pengurus lembaga yang berkaitan dengan teater dan film. Ia pernah menjadi ketua Badan Permusyawaratan Kebudayaan Yogyakarta (1946-1948), ketua Serikat Artis Sandiwara Yogyakarta (1946-1948), ketua Akademi Teater Nasional Indonesia, Jakarta (1955-1965), dan ketua Badan Musyawarah Perfilman Nasional (BMPN).

BMPN mendorong pemerintah melahirkan “Pola Pembinaan Perfilman Nasional” pada tahun 1967. Ia dikenal sebagai pendiri Perusahaan Film Nasional Indonesia bersama Djamaluddin Malik dan para pengusaha film lainnya. Lalu, ia menjadi ketuanya sejak 1954 sampai 1965.

Selain pembuat film, Usmar Ismail juga pernah jadi wartawan. Ia tercatat menjadi pendiri dan redaktur Patriot, redaktur majalah Arena, Yogyakarta (1948), “Gelanggang”, Jakarta (1966-1967). Ia bahkan pernah menjadi ketua Persatuan Wartawan Indonesia (1946-1947).

Semasa kariernya, Usmar juga sempat mendapatkan penghargaan bergengsi Piala Citra. Filmnya berjudul “Djam Malam dan Tamu Agung” (1955) juga mendapatkan penghargaan Film Komedi Terbaik.

Dalam film Tamu Agung, Usmar menyampaikan kritik sosial dan politik dan ingin mengaitkannya dengan masyarakat. Di film itu juga, Usmar ingin menyampaikan asas demokrasi soal kepentingan berbicara, berpikir, serta berpendapat.

Ismail juga merupakan pelindung utama seni dan kekuatan utama di balik pembentukan National Academy of Theatre di Indonesia. Konser Konser Usmar Ismail di Jakarta menyelenggarakan beberapa konser dan pertunjukan teater setiap tahun, sehingga merayakan warisan ikon budaya ini dan pengaruhnya pada komunitas seni pertunjukan Indonesia.

Selamat ulang tahun, Usmar Ismail!

 

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CELEBES ONLINE