1 Mei Diperingati Hari Buruh Internasional, Ini Sejarahnya | CELEBES ONLINE
banner pasang iklan
banner pasang iklan

1 Mei Diperingati Hari Buruh Internasional, Ini Sejarahnya

Sejumlah buruh menggelar aksi di bawah fly over, Makassar, 1 Mei 2018 - Ikrar

CELEBESonline.com, Makassar – 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Internasional atau dikenal dengan May Day. Di moment May Day, sejumlah buruh menggelar aksi turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya, tidak terkecuali di Indonesia, termasuk di Makassar.

Berbagai cara dilakukan organisasi dan serikat buruh dalam memperingati May Day. Akhir-akhir ini, May Day diidentikkan dengan aksi turun ke jalan para buruh untuk menuntut perbaikan nasib. Namun, tidak sedikit juga yang melakukan aksi sosial. Beberapa perusahaan juga menggelar aksi sosial dalam rangka Hari Buruh.

Di Makassar hari ini, ratusan tenaga kerja dari berbagao organisasi buruh menggelar aksi di depan Monumen Mandala, Jalan Jenderal Sudirman. Sejumlah buruh juga mengelar aksi di Kawasan Industri Makassar (KIMA) dan fly over. Sementara PT Pelindo IV menggelar aksi donor darah dan sunatan massal.

Di Indonesia peringatan hari buruh sempat dilarang di era Presiden Soeharto. Hari Buruh kembali menjadi hari libur nasional saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkannya tahun 2014.

BACA JUGA :  Jangan Lupa, Ramaikan 'Pasar Bahagia Ramadan' di Masjid Agung 45 Sore Nanti

Dilansir dari Wikipedia, Hari Buruh lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.

Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi pada tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.

Ada dua orang yang dianggap telah menyumbangkan gagasan untuk menghormati para pekerja, Peter McGuire dan Matthew Maguire, seorang pekerja mesin dari Paterson, New Jersey. Pada tahun 1872, McGuire dan 100.000 pekerja melakukan aksi mogok untuk menuntut mengurangan jam kerja. McGuire lalu melanjutkan dengan berbicara dengan para pekerja and para pengangguran, melobi pemerintah kota untuk menyediakan pekerjaan dan uang lembur. McGuire menjadi terkenal dengan sebutan “pengganggu ketenangan masyarakat”.

BACA JUGA :  Jangan Minum Air Es saat Berbuka Puasa!

Pada tahun 1881, McGuire pindah ke St. Louis, Missouri dan memulai untuk mengorganisasi para tukang kayu. Akhirnya didirikanlah sebuah persatuan yang terdiri atas tukang kayu di Chicago, dengan McGuire sebagai Sekretaris Umum dari “United Brotherhood of Carpenters and Joiners of America”. Ide untuk mengorganisasikan pekerja menurut bidang keahlian mereka kemudian merebak ke seluruh negara. McGuire dan para pekerja di kota-kota lain merencanakan hari libur untuk Para pekerja di setiap Senin Pertama Bulan September di antara Hari Kemerdekaan dan hari Pengucapan Syukur.

Pages: 1 2

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CELEBES ONLINE