Cerita dari Bazaar IMMIM-CELEBES TV (1) - Menjadi Ikon Wisata Religi Makassar | CELEBES ONLINE
banner pasang iklan
banner pasang iklan

Cerita dari Bazaar IMMIM-CELEBES TV (1) – Menjadi Ikon Wisata Religi Makassar

-

KOLOM ANDI SURUJI – Bazaar IMMIM memang cuma sebuah gelaran kegiatan tahunan berupa jual makanan dan minuman untuk buka puasa. Dan tahun ini sudah merupakan gelaran ketujuh kalinya.

Sepintas bukanlah sesuatu kegiatan yang istimewa, hanya rutinitas. Yang membedakan kali ini dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni turut sertanya CELEBES TV meramaikan dengan slogan “Semarak Ramadan” Bazaar IMMIM-CELEBES TV. Stasiun televisi ini menggelar siaran langsung (Live Event) setiap hari dari pukul 16.00 sampai 17.30 Wita.

Pada awalnya pun, kegiatan ini hanya diperuntukkan bagi keluarga besar IMMIM, yakni keluarga pegawai untuk menjual makanan dan minuman. Untuk meramaikannya, keluarga, termasuk cucu-cucu pendiri IMMIM, tokoh agama terkemuka nasional, Fadeli Luran, diwajibkan untuk menggelar jualan berupa apapun.

“Intinya, keluarga Fadeli Luran ambil bagian meramaikan. Tetapi lambat laun keluarga semakin berkurang karena diprioritaskan orang lain. Kalau orang lain sudah meramaikan ya keluarga mundur,” papar Nurfajri, putri bungsu Fadeli Luran yang akrab disapa Ulfah.

BACA JUGA :  Cerita dari Bazaar IMMIM-CELEBES TV (3) - Nilai Religi Berbaur Rasa Universal

Gelaran bazaar ini bagi IMMIM bukanlah bertujuan komersial. Penjual makanan dan minuman yang berpartisipasi hanya diminta membayar Rp 2,5 juta untuk satu petak ruangan selama 25 hari penyelenggaraan bazaar. Artinya, cuma Rp 100 ribu sehari. Padahal IMMIM menyediakan tenda, bangku dan meja, serta listrik dan air, serta tenaga kebersihan dan hiburan.

“Memang tidak bertujuan komersial, tetapi sosial ekonomi. Memberikan sarana bagi pengusaha kecil untuk mengail rezeki, mendapat keuntungan di bulan ramadan,” kata Ulfah.

Karena konsisten digelar, pada akhirnya kegiatan ini bisa dikatakan sudah menjadi ikon wisata religi di Makassar. Pengunjung bukan hanya warga Makassar, banyak juga dari daerah di Sulsel.

Bahkan, dari Jakarta, Surabaya dan kota lainnya mendatangi bazaar ini untuk menikmati makanan dan minuman khas dan trandisional jika kebetulan berada di Makassar. Patut digarisbawahi, tidak ada makanan modern seperti fast food yang dijual di sana.

BACA JUGA :  Cerita dari Bazaar IMMIM-CELEBES TV (3) - Nilai Religi Berbaur Rasa Universal

Eka, salah satu pengunjung yang ditemui Celebes TV, sudah dua hari berturut-turut berbuka puasa di arena bazaar IMMIM. Eka yang sudah lama bermukim di Singapura, menilai bazaar ini bagus sekali. Alasannya, di sini dia bisa menemukan kembali jiwa kedaerahannya, karena makanan yang dijual kebanyakan makanan khas daerah ini. “Makanan khas itu kan ibarat soul suatu daerah. Makanannya enak-enak semua lagi,” katanya.

Jumat (18/5/2018) sore, Celebes TV menjumpai dua orang wisatawan asal Inggris yang duduk di meja-bangku panjang setelah memesan makanan. Mereka berbincang dengan temannya yang warga Makassar. Ketika pesanan makanan dan minumannya di antar ke mejanya, turis itu hendak menyanyapnya.

“Eitsss…. jangan dulu. Belum boleh makan dan minum. Nanti kita sama-sama dengan orang lain ketika waktu buka puasa telah tiba,” erita teman Makassarnya.

Itulah sepenggal cerita dari arena bazaar “Semarak Ramadan” IMMIM-CELEBES TV.(Bersambung)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CELEBES ONLINE