Cerita dari Bazaar IMMIM-CELEBES TV (3) - Nilai Religi Berbaur Rasa Universal | CELEBES ONLINE
banner pasang iklan
banner pasang iklan

Cerita dari Bazaar IMMIM-CELEBES TV (3) – Nilai Religi Berbaur Rasa Universal

Panitia semarak Ramadan berbagi rezeki dengan anak yatim - (Handover)

KOLOM ANDI SIRUJI – Acapkali kita berpikiran bahwa bazaar di Bulan Ramadan hanyalah sebuah gelaran jual-beli makanan, minuman, untuk berbuka saja bagi mereka yang berpuasa? Atau jualan pakaian dan perlengkapan rumah tangga jelang Idul Fitri?

 

Tidak salah, karena memang begitu salah satu tujuannya. Apalagi di kota, seperti di Makassar, banyak orang sibuk sehingga butuh sarana yang praktis. Pulang kerja misalnya, mampir sebentar beli makanan dan minuman lalu bawa pulang ke rumah untuk disantap bersama keluarga.

 

Arena bazaar IMMIM di halaman Gedung IMMIM Jalan Jenderal Sudirman, misalnya. Bukan lagi sekadar arena bazaar makanan dan minuman buka puasa. Lebih dari itu, karena di sini sudah semacam obyek wisata religi selama Bulan Ramadan.

 

Kata orang, “sekali pukul” dua tiga urusan selesai. Bisa lebih. Di IMMIM, selain berbuka, juga bisa shalat magrib, shalat Isya dan taraweh. Apalagi IMMIM sebagai organisasi yang memang memayungi ribuan da’i, uztads, kiyai, doktor, professor di bidang agama, selalu menyediakan penceramah yang asik-asik.

 

Karena itulah bagi mereka yang hendak sekali “pukul” untuk mengerjakan dan menyelesaikan banyak hal, memilih berbuka puasa di IMMIM adalah tempat yang cukup ideal. Apalagi juga bisa berbagi rezeki dengan anak-anak yatim. Tidak heran jika bazaar ini dikunjungi banyak orang setiap hari.

 

Selain untuk berbuka puasa juga untuk urusan lain. Bahkan banyak di antara pengunjung yang menjadikannya sebagai tujuan wisata, sekadar kumpul bareng sahabat untuk mengobrol dan silaturrahmi. Tetapi tidak terbatas bagi sesama muslim saja karena faktanya, banyak juga warga non-muslim yang berkunjung untuk beli makanan dan minuman.

 

Dua tahun silam, saya pernah menjumpai seorang muslim mengajak temannya bertemu di arena bazaar sekaligus buka puasa. Padahal temannya itu non muslim, tetapi mau juga diajak ke arena yang lebih terasa religius itu.

 

Ketika tiba waktu shalat tiba, sang muslim melaksanakan kewajiban dan non muslim menunggu. “Mengapa tidak ikut taraweh? Penceramahnya bagus…!”

 

“Oh, saya bukan muslim Pak. Saya sama teman saya ke sini temani buka puasa, sekaligus ngobrol-ngobrol bisnis. Nanti subuh saya mau balik ke Surabaya,” katanya.

 

Tahun lalu, di arena bazaar itu pula saya bertemu Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo. Dia bersama anak cucunya datang untuk berbuka puasa, menikmati makanan khas daerah yang banyak dijual pelaku usaha rumah tangga. Makanan rakyat, usaha rakyat, dan pemimpin merakyat.

 

Begitulah Bazaar IMMIM yang tahun ini berkolaborasi dengan CELEBES TV yang menggelar siaran langsung setiap hari. Tidak lagi sekadar bazaar makanan dan minuman, tetapi makanan dan minuman khas serta suasana yang menjadikannya sebagai salah satu “meeting point” bernilai ganda.

 

Harga (price) makanan dan minuman memang murah, tetapi nilai-nilai (values) yang dihadirkannya tak terhitung dan tak terhingga. Rakyat biasa bisa menyatu dengan gubernurnya, yang kaya dan miskin berbagi sama rasa, muslim dan non muslim menyambung tali silaturrahmi. Memang terasa kental nilai religiusitasnya, tetapi rasa universalitas jauh lebih mendalam di hati. Tanpa sekat keyakinan, agama, suku dan ras. Hablum minallah wahablum minannaas.

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CELEBES ONLINE