Catatan PSBM XVIII (2) - Saudagar, Era Digital dan Generasi Millenial | CELEBES ONLINE
banner pasang iklan
banner pasang iklan

Catatan PSBM XVIII (2) – Saudagar, Era Digital dan Generasi Millenial

Dari kiri : Wapres RI Jusuf Kalla, Ketua Pengurus Besar KKSS Sattar Taba, Sekjen KKSS Ibnu Munsyir dan Ketua PSBM XVIII Andi Rukman N Karumpa - (Ist)

KOLOM ANDI SURUJI – Menyebut atau mendengar kosa kata saudagar acapkali pikiran tertuju pada sesuatu yang bermakna usang. Kadang terasa tidak kontekstual di era digital dan generasi millenial, eranya “anak jaman now”.

 

Mereka lebih familiar melafalkan kata enterpreneur, bahkan semakin tersegmentasi. Muncullah istilah teknoprneur, artpreneur, digipreneur, dan sebagainya.

 

Saudagar “jaman now” sudah diakuisisi oleh anak-anak millenial. Cara berjualan, berdagang, berbisnis sudah jauh melampaui zaman. Memiliki usaha dagang misalnya, anak-anak millenial tidak perlu membangun toko konvensional yang memerlukan modal besar. Mereka cukup membuka akun media sosial, meng-upload foto-foto ke facebook, instagram, mereka sudah bisa melakukan transaksi jual beli.

 

Era digital dan millenial memang telah mengubah banyak hal dalam tataran dan tatanan sosial ekonomi. Contohnya dalam berbisnis tersebut. Birokrasi yang berbelit dan korup bakal tergilas oleh revolusi digital dan media sosial serta idealisme generasi millenial.

 

Di daerah, khususnya di Sulawesi Selatan, saya bertemu banyak anak muda yang mulai merintis usahanya dengan berbasiskan teknologi. Mereka tidak perlu mendirikan toko, memiliki gudang besar. Itulah yang disebut start-up. Ide dan kreativitas mereka luar biasa, kadang liar dan nyaris tak masuk akal bagi generasi sebelumnya.

 

Saya ingin memberi contoh komparatif. Pedagang beras “zaman old” harus mengurusi pembelian beras, pengepakan, pengiriman, penagihan, bertemu klien, memgurusi pencatatan transaksi keuangan. Begitu juga pedagang-pedagang sayur-mayur.

 

Bandingkan dengan anak muda “zaman now” yang sudah membuat aplikasi perdagangan beras dan perdagangan sayur mayur. Ia cukup mengontrol bisnisnya lewat smarphone dengan aplikasi mobile yang dibuatnya, sehingga kapan dan di mana saja dia bisa mengontrol bisnisnya.

 

Bagi para saudagar “zaman old” yang telah sukses di rantau, kiranya ide-ide dan kreativitas brilian anak-anak muda ini yang mestinya ditangkap, dibantu untuk dientaskan menjadi calon-calon saudagar yang kelak mengisi proses regenerasi kesaudagaran Bugis-Makassar.

 

Hal paling utama yang harus ditanamkan kepada mereka adalah spirit kesaudagaran Bugis-Makassar, yakni kejujuran dan keadilan, serta semangat tidak mudah menyerah dalam mengatasi pasang surut gelombang dan dinamika bisnis dalam berwirausaha.

 

Ide dan kreativitas mereka, bisa jadi tidak akan habis-habisnya. Jiwa dan spirit kesaudagaran mereka yang harus diisi dengan nilai-nilai tradisi dan budaya Bugis-Makassar.

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CELEBES ONLINE