Catatan PSBM XVIII (3) - Regulasi yang Membonsai | CELEBES ONLINE
banner pasang iklan
banner pasang iklan

Catatan PSBM XVIII (3) – Regulasi yang Membonsai

Para saudagar Makassar melakukan napak tilas - (Ist)

KOLOM ANDI SURUJI – Calon presiden, calon gubernur, calon walikota, calon bupati, serta calon-calon pemimpin organisasi pengusaha, senantiasa memasukkan penciptaan wirausaha muda atau pengusaha baru sebagi salah satu program unggulan yang ditawarkan kepada publik pemilih.

 

Tidak salah karena itu program baik, menciptakan lapangan kerja mengatasi masalah pengangguran. Ketika perusahaan dan birokrasi kewalahan menciptakan lapangan kerja, solusinya adalah mendorong anak-anak muda itu menerjuni belantara bisnis.

 

Akan tetapi tentu tidak mungkin mengangkut mereka naik di ketinggian cita-cita lalu didorong terjun bebas dan jatuh ke belantara. Mereka harus dibekali dengan ilmu dan modal agar dapat survive, dan berkembang.

 

Tidak jarang program yang dikampanyekan akan hilang begitu saja ditelan hiruk-pikuk politik pencitraan. Karena menciptakan pengusaha baru dan pengusaha formal memang tidak mudah. Dibutuhkan komitmen bersama yang kuat untuk merealisasikannya.

 

Tidak sedikit hambatan untuk bertumbuh dan berkembangnya pengusaha informal menjadi formal justru bermula di tangan penguasa, regulator. Banyak aturan yang menghambat dan mematahkan semangat, kemudian memghentikan langkah anak muda yang merintis usaha.

 

Contoh dalam hal perizinan. Izin tidak dapat diberikan jika tempat usaha berada di rumah atau di kawasan perumahan. Artinya seorang pemula sudah harus punya modal menyewa tempat usaha jika mau memulai bisnis secara formal. Mengapa tidak dimudahkan saja, semisal walaupun perusahaan beralamat di garasi mobil pun sudah dapat diberikan izin usaha.

 

Contoh lain dalam hal permodalan. Jika mereka melangkah ke bank untuk pinjam kredit, maka pebisnis pemula bakal menghadapi dua syarat berat. Pertama, perusahaan harus sudah membukukan keuntungan tiga tahun berturut-turut. Kedua, harus ada agunan.

 

Kedua syarat tersebut tentulah sangat berat bagi pengusaha pemula. Bagaimana bisa seorang perintis bisnis sudah harus berhadapan dengan persyaratan untung tiga tahun dan agunan fisik, padahal bisnis baru dimulai?

 

Mengapa bukan prospek bisnisnya yang dilihat dan pribadi creatornya yang dijadikan agunan? Katakanlah mereka “dikontrak” kalau memang bisnis rintisan mereka prospektif. Diberi ruang kerja, diawasi setiap langkah-langkah bisnisnya oleh bank, dibimbing untuk mencari solusi setiap permasalahannya, diberikan bimbingan oleh instansi terkait, semacam konsultansi gratis, dan sebagainya. Membantu mencari koneksi bisnis di antara sekian banyak mitra bisnis bank.

 

Persyaratan bank dan birokrasi memang ketat, well regulated, karena tujuannya untuk ketertiban berbisnis, ketaatan aturan. Tetapi tanpa komitmen dan terobosan, maka program penciptaan wirausaha muda itu hanya sebatas jargon karena regulasi yang ada membonsai mereka. Akhirnya yang banyak lahir adalah pengusaha informal yang tidak pernah naik kelas.

 

Cobalah kita keliling kota, setiap jengkal ruang kosong, pasti diokupasi pedagang informal. Bertahun-tahun mereka di sana tanpa peningkatan usaha. Padahal mereka toh dikenai berbagai macam pungutan formal dan informal. Aneka ragam “jatah petugas” harus mereka bayar.

 

Padahal kalau mereka dientaskan menjadi pengusaha formal, pajak akan masuk dan mudah dikontrol, pendapatan daerah dan negara pun meningkat, asal tidak dikorupsi. Masalah sosial berkurang, pengangguran teratasi karena mereka mampu menciptakan lapangan kerja. Setidaknya untuk dirinya sendiri dulu.

 

Persoalan kita, kecuali birokrasi yang membelit, mentalitas korup aparatur sepertinya semakin tebal. Demi survival, pengusaha informal itu mau tak mau harus ikut dalam pusaran korupsi yang semakin luar biasa berbahayanya.

 

Pada titik inilah kita bisa menilai para pemimpin terpilih itu. Terlihat dan terasakankah komitmen mereka untuk mengangkat para pengusaha informal itu menjadi pengusaha formal. Jika sudah, pertanyaan selanjutnya, apakah terlihat nyata upaya penciptaan pengusaha baru yang mereka janjikan sebelum terpilih? Jangan-jangan pengusaha baru itu lahir semata karena naluri mereka sendiri tanpa sentuhan para pemimpin.

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CELEBES ONLINE