Polda Sulsel Amankan Dua Calo Penjualan Emas dari Penambangan Ilegal di Timika | CELEBES ONLINE
banner pasang iklan
banner pasang iklan

Polda Sulsel Amankan Dua Calo Penjualan Emas dari Penambangan Ilegal di Timika

Ilustrasi - int

CELEBESonline.com, Makassar – Dua orang yang menjadi calo penjualan emas ilegal, D (49) dan JFK (50), diamankan polisi di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Hal ini dibenarkan Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani, Kamis (13/9/2018).

Dari tangan tersangka, polisi mengamankan total 23.584,74 gram emas yang didapat dari penambang ilegal di Timika, Papua.

Dicky mengatakan bahwa D bertugas menampung emas dalam bentuk pasir dari penambang ilegal di Timika. Kemudian dimurnikan menjadi emas batangan. “Emas batangan ini lalu dijual kepada tersangkat JFK,” kata Dicky.

Disebutkan bahwa kedua tersangka ini memiliki toko emas. JFK memiliki toko emas di Makassar sedangkan D merupakan pemilik toko emas “Rizki Utama” di Timika, Papua.

Keduanya mendapat keuntungan dengan menjadi broker dari bisnis jual-beli emas tersebut.

Tersangka D diamankan di kedatangan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar pada Kamis (24/5/2018) sedangkan JFK diciduk di toko emas miliknya pada Jumat (25/5/2018) lalu.

Dilansir dari Kumparan.com, Kamis (13/9/2018), polisi mengamankan sejumlah barang bukti dari tangan D seperti 15 batang emas 24 karat dengan total berat 16,7 kilogram, 3 buah smartphone, serta 1 buku tabungan BCA KCP Timika.

Sementara dari tangan JFK polisi mengamankan 18 batang emas 24 karat dengan total berat 6,8 kilogram, 1 timbangan elektronik, 1 gunting besar, 1 pompa angin dan selang hitam, 1 mangkuk kecil dari tanah liat, serta 1 alat cetak emas berbahan besi.

Dari tangan JFK juga diamankan nota penerimaan emas dari D. Tercatat pada 23 Maret 2016 dengan total 17.084 gram dan pada 22 Ferburari 2018 dengan total 23.849 gram.

Keduanya dikenakan Pasal 161 UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara karena terbukti menampung, mengolah, mengangkut, dan menjual mineral dan batubara yang bukan dari pemegang IUP, IUPK, dan izin. Keduanya terancam hukuman 10 tahun penjara dengan denda maksimal Rp 10 miliar.(*)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CELEBES ONLINE