Petani Enrekang Manfaatkan Limbah Kulit Kopi sebagai Pupuk Organik | CELEBES ONLINE
banner pasang iklan
banner pasang iklan

Petani Enrekang Manfaatkan Limbah Kulit Kopi sebagai Pupuk Organik

Petani kopi di Enrekang, Aminuddin - handover

CELEBESonline.com, Enrekang – Tanaman kopi merupakan komoditas unggulan di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan. Daerah penghasil kopi di Sulsel adalah Tana Toraja dan Enrekang yang merupakan wilayah dataran tinggi.

Di Enrekang, jenis kopi yang banyak dibudidayakan adalah Kopi Arabika. Menurut penelitian, beberapa faktor yang memengaruhi keberhasilan budi daya kopi diantaranya jenis tanaman, teknik budi daya, dan penanganan pasca panen.

Dengan cukup mahalnya harga pupuk anorganik di pasaran, maka perlu digalakkan pemanfaatan pupuk organik atau pupuk alami. Disamping lebih murah dan mudah didapatkan, diharapkan penggunaan pupuk organik pada tanaman kopi dapat meningkatkan citarasa dan mutu fisik kopi.

Salah satu petani kopi di Desa Baroko, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan, bernama Aminuddin. Menurut Aminuddin, kunci sukses menghasilkan kualitas dan kuantitas kopi yang maksimal adalah pada pemeliharaan pohon dan pemupukan.

Warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) ini memanfaatkan limbah kulit kopi sebagai pupuk alami. Kulit kopi yang biasanya dibuang, ia gunakan sebagai penyubur tanamannya.

Secara geografis, Kabupaten Enrekang terletak di daerah ketinggian, sehingga Enrekang memiliki iklim yang cukup sejuk. Posisi strategis inilah yang mendukung Enrekang sebagai salah satu daerah potensial penghasil kopi di Sulawesi Selatan.

Kopi Arabika tumbuh di daerah ketinggian 700 sampai 1.700 meter dari permukaan laut (dpl) dengan suhu 16 sampai 20 derajat Celcius.

Petani kopi LDII ini juga aktif bertukar pikiran dengan sesama petani. Ia sering berbagi pengalaman dengan sesama petani terkait pemeliharaan tanaman kopi.

Sebagai petani kopi, Aminuddin berupaya berkontribusi meningkatkan kualitas kopi dengan mendayagunakan potensi alam yang tersedia. Berkat usahanya memanfaatkan kulit kopi menjadi pupuk, secara tidak langsung ia mengurangi produksi sampah.

Ia mengatakan, masa panen raya kopi pada Bulan Mei hingga Juli. Adapun setelah itu, memasuki masa panen tambahan.

Untuk satu kali panen ia bisa mengumpulkan 300 liter kopi dengan luas kebun 3/4 hektar. Saat ini, harga kopi di pasaran cukup stabil, berkisar Rp 20 ribu per liter.

Menyeruput kopi khas Enrekang memberi kenikmatan tersendiri. Kopi Arabika khas Enrekang dikenal sebagai salah satu kopi kualitas terbaik. Aromanya lebih tajam, harum, dan pahitnya terasa pas.

Aroma kopi ini ini diyakini memiliki citarasa dan sensasi yang berbeda dengan kopi lainnya.

Untuk sampai ke Desa Baroko, Anda perlu menempuh perjalanan sejauh 286 km dari Makassar. Perjalanan tersebut membutuhkan waktu sekitar 7 jam. Namun, lelah perjalanan seakan terbayarkan usai menikmati kopi Enrekang.

 

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CELEBES ONLINE