Memenuhi Hak Anak Korban Bencana | CELEBES ONLINE
banner pasang iklan
banner pasang iklan

Memenuhi Hak Anak Korban Bencana

Relawan psikososial Unibos melakukan pendampingan terhadap anak korban bencana di Sulteng - Dok Unibos

Oleh: Undiana
(Forum Muslimah Peduli Ibu dan Generasi Makassar)

CELEBESonline.com – Setiap bencana, akan selalu meninggalkan duka. Tak hanya bagi orang dewasa, tapi juga anak-anak. Bahkan diantaranya ada yang masih bayi, batita dan balita.
Begitupun dengan bencana gempa bumi yang terjadi di Palu dan Donggala Sulawesi Tengah.

Dahsyatnya terjangan tsunami dan fenomena likuifaksi kian menambah getir dan pilunya kehidupan pasca bencana baik bagi orang dewasa maupun anak-anak.

Khusus korban anak, duka yang ditanggung oleh anak-anak ini beragam. Ada yang kehilangan orangtuanya. Ada yang sementara putus sekolah karena bangunan sekolah ikut roboh, tenggelam atau karena administrasi yang belum berjalan normal. Mereka juga tentunya kekurangan pangan, sandang serta ketiadaan papan (tempat tinggal) akibat rumah orang tuanya juga ikut terdampak gempa.

Menghadapi situasi ini, maka harus diupayakan bagaimana kebutuhan-kebutuhan anak-anak tetap terpenuhi secara wajar. Diantara kebutuhan anak-anak korban bencana yang harus terus diperhatikan adalah: Pertama, kebutuhan dasar meliputi makanan, pakaian, dan tempat tinggal sementara (jika sudah tak memiliki rumah atau harus tinggal di tenda-tenda pengungsian).

Kebutuhan ini sama halnya dengan kebutuhan korban orang dewasa pada umumnya. Hanya bagi anak-anak memang harus lebih diperhatikan lagi mengingat mereka lebih rentan terhadap berbagai dampak yang timbul bagi kesehatan jika kebutuhan ini tak terpenuhi.

Termasuk juga dalam kebutuhan dasar ini adalah kesehatan dan pendidikan. Harus senantiasa dipastikan ada akses yang memadai bagi mereka untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Terlebih jika berada di tempat yang sesungguhnya tak layak secara kesehatan.

Sementara untuk pendidikan, di beberapa posko relawan, anak-anak korban bencana masih bisa bersekolah darurat dengan pengajar dari para relawan. Sementara anak-anak yang ikut mengungsi ke Makassar, juga sudah ikut bersekolah di beberapa sekolah di Makassar.

Kedua, kebutuhan akan kasih sayang. Hal ini tak berbeda dengan anak-anak yang bukan korban bencana. Namun bisa jadi anak-anak korban bencana ini membutuhkan lebih banyak kasih sayang baik dari orangtua maupun orang-orang sekitarnya. Karena mereka sejatinya tengah mengalami trauma atas bencana yang telah menimpa mereka.

Maka sangat dibutuhkan kasih sayang yang terus mengalir dari banyak pihak. Diharapkan hal ini bisa sebagai trauma healing pada diri mereka.

Terlebih jika bencana ini juga ikut merenggut nyawa orangtua mereka. Empati, solidaritas sosial dan kasih sayang dari berbagai pihak tentu akan sangat berarti bagi kehidupan mereka baik sekarang maupun yang akan datang.

Ketiga, kebutuhan atas keamanan. Kasus yang menimpa SH (7 tahun), seorang bocah pengungsi dari Palu ke Makassar, sungguh menyayat hati. Di tengah pengungsian lari dari bencana bersama orangtuanya, bocah ini diperkosa oleh tiga pemuda bejat secara bergiliran.

Betapa kejinya perilaku mereka. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa anak-anak korban bencana juga berada dalam intaian berbagai bahaya. Salah satunya dari para predator seksual yang biadab.

Maka, kebutuhan atas rasa aman menjadi hal yang sangat krusial bagi anak-anak korban bencana, baik yang tetap berada di kotanya atau yang mengungsi ke tempat lain.

Keempat, kebutuhan akan mental recovery. Hal ini menjadi penting mengingat rasa trauma atas bencana yang telah mereka saksikan di depan mata tidak mudah begitu saja dilupakan. Bahkan bisa jadi meninggalkan trauma yang berkepanjangan. Maka kebutuhan atas mental recovery juga tak bisa diabaikan.

Tanggung Jawab Negara

Berbagai kebutuhan ini, sudah seyogiyanya perlu dipikirkan dengan baik oleh berbagai pihak terkait. Jika sekarang para relawan dari berbagai daerah masih banyak bergelut di lapangan membantu memenuhi berbagai kebutuhan ini, maka sejatinya negara juga sudah harus mulai mencanangkan langkah ke depan jika kelak para relawan sudah kembali ke daerah masing-masing.

Pemerintah dalam hal ini sebagai penanggungjawab terbesar urusan rakyat harus terus mengawal dan memastikan terpenuhinya berbagai kebutuhan di atas. Bahkan harus berupaya semaksimal mungkin untuk memenuhinya.

Tanpa keterlibatan penuh dari pemerintah (negara) dalam membantu berbagai kebutuhan para korban termasuk di dalamnya anak-anak, kehidupan anak-anak pasca bencana akan menjadi lebih sulit dan butuh waktu lebih lama untuk berjalan normal seperti sebelumnya. (*)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CELEBES ONLINE